Thursday, December 13, 2007

PUISI DIGITAL (KAJIAN REPRODUKSI ANTOLOGI PUISI DIGITAL CYBERPUITIKA-2002)

Oleh: CUNONG N. SURAJA


PENDAHULUAN

Membicarakan puisi digital berkaitan erat dengan kelompok penggiat sastra internet atau sastra cyber yaitu Yayasan Multimedia Sastra (YMS). YMS didirikan pada 2 Maret 2001 oleh pecinta dan pencipta karya sastra, yang selama ini berhubungan secara tertulis melalui mailing list penyair@yahoogroups.com, puisikita@yahoogroups.com, dan gedongpuisi@yahoogroups.com memanfaatkan media internet yang saat ini ada dan tersedia di hampir semua tempat, di rumah, di kantor, di sekolah, di perjalanan, di pusat perbelanjaan, di warung-warung internet (warnet atau cyber cafe) untuk pengembangan sastra dengan disahkan akta notaris Evawani Alissa Chairil Anwar. YMS bertujuan mendukung aktivitas insan pencipta karya sastra dan pecinta (penikmat) sastra dalam mengembangkan sastra dalam berbagai media dan mempunyai situs (homepage) http://www.cybersastra.net sebagai pusat informasi sastra. Nama cybersastra merupakan nama situs milik YMS sebagai media publikasi karya sastra lewat fasilitas internet, yang sering dirancukan dengan karya sastra yang dipublikasikan dalam dunia internet sebagai sastra cyber. YMS juga menerbitkan karya sastra dalam berbagai media berupa buku-buku, compact disc, video compact disc, kaset, kaos, kalender. Buku-buku yang telah diterbitkan di antaranya kumpulan puisi Graffiti Gratitude (2001),kumpulan artikel atau karangan Cyber Graffiti (2001) yang direvisi menjadi Cyber Graffiti: Polemik Sastra Cyberpunk (2004), kumpulan cerita pendek Graffiti Imaji (2002). Kemudian dalam format CD menerbitkan Antologi Puisi Digital Cyberpuitika (2002).



Antologi Puisi Digital Cyberpuitika (APDC) (2002) merupakan kumpulan puisi terbitan YMS dalam format CD bukan dalam bentuk buku. CD merupakan fasilitas dalam komputer untuk membaca data yang terkumpul dalam compact disc (CD). Puisi yang terkumpul dalam APDC menggunakan unsur media seni lukis atau foto dan musik serta animasi yang tersedia dalam program komputer Microsoft PowerPoint. Penggunaan media seni rupa dan musik ini menjadi dasar alasan atau inspirasi bagi penyair dalam pembuatan puisi dalam kumpulan puisi digital. Alasan lain yang merupakan alasan YMS dalam penerbitan dalam format CD yaitu:

1) sebagai tanggapan atas protes penerbitan buku
2) demo alternatif media sastra
3) pengembangan sastra Indonesia
4) pemersatuan berbagai bidang seni & seniman
Penggunaan media pengungkapan seni pada umumnya dan sastra (dalam hal ini puisi) pada khususnya mulai berubah dengan adanya perkembangan teknologi. Walter Benjamin (1936) dalam "The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction" mencatat ada dua teknik yakni founding (mencetak dengan menggunakan bentuk cetakan seperti cara membuat kue) dan stamping (mengecap dengan cara menekankan bentuk cap seperti stempel atau dalam pembuatan batik yang mempunyai pola gambar yang dibuat dari logam dan dicapkan pada kain batik). Proses ini berkembang dari cukilan kayu yang kemudian berlanjut dengan penemuan mesin cetak, yang dikenal dengan istilah lithography sehingga karya sastra yang semula merupakan tradisi lisan berkembang dalam bentuk cetak, baik berupa buku ataupun majalah dan koran sebagai bentuk sastra tulis(cetak). Robert Escarpit (1958) (terjemahan Ida Sundari Husen, 2005: 5-6) menyatakan bahwa penemuan percetakan menimbulkan perkembangan industri buku serta adanya perkembangan teknik audiovisual, menjadikan kegiatan budaya bukan melulu kegiatan golongan elit borjuis tetapi telah menjadi alat promosi intelektual untuk masyarakat luas. Demikian juga Faruk HT (2004: 61) dalam "Tubuh, Kebudayaan, dan Seksualitas" menyatakan adanya korelasi positif antara perkembangan kemampuan teknologi informasi dan komunikasi dengan perkembangan besarnya dan beranekanya kolektivitas serta juga perkembangan kecanggihan kebudayaan atau peradaban umat manusia.
Teknologi melahirkan perangkat komunikasi dalam bentuk telepon dan komputer yang dikenal dengan istilah internet yang merupakan perkembangan hasil teknologi komputer dan saluran telepon. Internet adalah dunia maya yang merupakan hubungan antar berjuta-juta komputer hingga melewati batas wilayah geografis (Nanang Suryadi,2004: 9). Internet sebagai media baru menawarkan hal yang lebih mudah kepada mereka yang mengetahui teknologi komputer untuk sarana berekspresi kreatif dan bersifat instant – sekali jadi dan langsung – serta interactive – ditanggapi oleh sesama anggota mailing list. Mailing list merupakan kelompok diskusi terbuka melalui internet dalam bentuk surat-menyurat elektronik atau yang dikenal dengan nama electronic mail (e-mail). Ini juga terjadi pada penggunaan telepon genggam (hand-phone) dengan layanan pesan pendek (short message service – SMS) yaitu dimanfaatkan untuk menulis puisi dengan keterbatasan jumlah huruf yang dapat ditampilkan di layar telepon genggam. Internet menawarkan media kreatif komunikatif untuk menghasilkan karya yang memacu proses kreatif dalam karya sastra, khususnya puisi. Puisi tersebut langsung dapat ditanggapi penyair dan penikmat – menjadi dialog yang interaktif. Faruk HT (2004: 23) dalam penelitian tentang sastra cyber yang diwakili oleh situs http://www.cybersastra.net menyatakan kehadiran internet melebarkan peluang yang diberikannya, dan meluasnya para pengguna serta menyimpulkan dari pendapat Nanang Suryadi bahwa internet memberikan "kemungkinan-kemungkinan lain".
Proses publikasi dan apresiasi berjalan beriringan antara pencipta dan penikmat maupun di antara penyair (pencipta), Medy Loekito (2004: 2) menyebutkan "… pada detik yang sama, karya itu dipublikasikan di puluhan, bahkan mungkin pada jutaan titik lain,karya tersebut telah dapat dinikmati." Proses penulisan puisi lewat internet mulai merebak pada awal tahun 2000 yang ditegaskan Medy Loekito (2004: 3) sebagai mempermudah pembaca menikmati karya sastra – dengan tampilan yang indah pula – telah menciptakan evolusi sastra instant. Kegiatan respon-merespon karya seni ini dimungkinkan sebelumnya hanya melewati sebuah pertunjukan seperti dicatat Goenawan Mohamad (1993: 110) bahwa kesusastraan dan seni rupa bergabung dengan seni pertunjukan yang dalam pembacaan puisi bukan lagi menarik karena puisinya tetapi cara penampilan pembacanya dan memungkinkan adanya kontak langsung. Puisi-puisi di internet adalah karya penyair pemula maupun penyair yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku atau di lembar budaya koran maupun majalah muncul bersamaan dalam mailing list dan situs (homepage) sastra. Kebersamaan itu melahirkan motivasi mencari bentuk atau media puisi yang baru terutama dalam penggunaan program komputer. Puisi semacam itu dikenal dengan puisi digital. Kominos Zervos (2002) dalam penelitian puisi cyber - cyberpoetry di situs (homepage) Pandora membatasi puisi digital atau multimedia sebagai jenis puisi yang menggunakan program-program komputer (Zervos menggunakan istilah cyberpoetry – puisi cyber). Lebih lanjut dia menambahkan bahwa puisi tidak lagi sederet huruf dan kumpulan kata yang bermakna tetapi sudah menjadi sebuah animasi – bentuk yang bergerak, berwarna, berbunyi dan berlatar belakang lukisan atau foto. Kemudian Jorge Luiz Antonio (2001) dari Brasilia memetakan puisi digital sebagai "… the continuous relationship between art and science, and the new media utilization as a means of poetic expression: these seem to be the first elements we can identify as we look for new artistic communication media, among which we find poetic communication, that is, digital poetry.
Antologi Puisi Digital Cyberpuitika (APDC) merupakan karya sastra (dalam hal ini puisi) yang dikemas dalam bentuk compact disc. Menurut kulit luar compact disc yang ditulis oleh Tommy Prakoso (2002) ini merupakan terobosan karya sastra puisi yang menggunakan media program komputer Microsoft. Program itu bernama PowerPoint yang digunakan untuk menggantikan peran over head projector (OHP) karena kelebihannya dalam variasi huruf baik ukuran dan warna, dapat menampilkan gambar berupa foto, tabel, grafik bahkan gambar yang bergerak (animasi), serta dapat diiringi dengan suara serta potongan film – film episode. Kumpulan puisi digital (APDC) ini merupakan terbitan Yayasan Multimedia Sastra diluncurkan pertama kali pada 3 Agustus 2002 di Lembaga Indonesia-Perancis, Yogyakarta yang berisi 169 puisi dari 55 penyair. Penerbitan puisi digital dengan media compact disc ini menimbulkan polemik di harian Pikiran Rakyat Bandung dan telah diterbitkan dalam kumpulan esai Cyber Graffiti, Polemik Sastra Cyberpunk (2004) yang merupakan edisi revisi Cyber Graffiti (2001) dengan tambahan esei-esei terbaru.
Perdebatan dalam polemik puisi digital ini menjadi dorongan untuk diteliti tentang penggunaan media baru (dalam hal ini program komputer dan media compact disc) yang dalam makalah Starla Stensaas (2000) "New Media, Old Art Forms: Art in the Age of Digital
Reproduction" dikatakan bahwa penggunaan media baru (dalam hal ini program komputer atau digital) utamanya sebagai alat produksi dalam penerapan seni kreatif. Antologi puisi digital (APDC) merupakan puisi dalam program komputer Microsoft PowerPoint berwujud rangkaian kata yang disajikan dengan memanfaatkan teknologi multimedia (Juniarso Ridwan, 2004: 253). Menggarisbawahi pernyataan Juniarso Ridwan, Jorge Luiz Antonio (2001) melihat puisi digital dalam dua hal yang pokok yakni dipenuhi dengan gambaran grafis dan puisi dengan bayangan yang bergerak dan bunyi dalam fasilitas program komputer seperti interactivity, hypertextuality, hypermedia dan interface. Ditambahkan oleh Faruk HT (2002) bahwa sastra multimedia merupakan bagian integral dari budaya konsumen, sebuah budaya yang dibangun dan disebarkan oleh kapitalisme mutakhir yang ditopang oleh teknologi elektronik. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Douglass H Thomson (1998) dalam "The Work of Art in the Age of Electronic (Re) Production" yang mempertanyakan tentang konsep budaya cetak yang merupakan pergeseran dari lisan ke tulis.

PUISI KONKRET = PUISI DIGITAL?

Penerapan teknologi dapat mewujudkan puisi bentuk baru dengan kekayaan media tulis, media gambar, media musik, media bunyi- bunyian, dan media gambar bergerak (animasi). Semua media ini dapat digunakan sekaligus dalam puisi dengan bantuan program komputer.Dalam seni rupa dikenal dengan nama Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) yang mengenalkan jenis lukisan yang disebut seni lukis instalasi, jenis seni rupa ini menghadirkan lukisan dengan media lain selain cat maupun pensil berwarna dan tidak hanya dipamerkan di studio lukis atau ruang pamer yang dibatasi dinding, tetapi dipamerkan (dipertunjukkan) di alam terbuka seperti tepi pantai, persawahan bahkan di jalan raya di tengah kota. Multimedia digunakan oleh perupa-perupa GSRB dalam membuat karya instalasinya demikian pula puisi digital yang terkumpul dalam APDC menggunakan unsur musik atau bunyi, foto atau lukisan sebagai bahan inspirasi menuliskan puisi yang kemudian ditampilkan dengan menggunakan program komputer.
Penggunaan multimedia dalam karya seni ini terjadi pada peristiwa puisi Danarto "kotak-kotak putih" yang dipentaskan di teater tertutup TIM Jakarta tahun 1974 oleh penari Tri Sapto" juga pembacaan puisi Sutardji CB "Q" kemudian dikenal dengan puisi konkret (Jatman,1985 dan Toda,1984) "Kominos Zervos (2002) menandai puisi konkret sebagai … poetry in which a word, or group of words, conjure images beyond,complimentary to, and reflective of, the popular concept of their meaning. It is poetry which appreciates words, and even letters, for the way they look on a page, their aesthetic appeal as objects of art, their arrangement on a two dimensional surface… Sedangkan Dami N. Toda (1984) mencatat perkembangan puisi konkret di Indonesia (Dami N. Toda mengeja kongkret) yang dinamai puisi total sebagai puisi di era pracetak yang memunculkan kata verbal dan unsur nonkata dalam kesatuan kata, bunyi, warna nada, ritme, gerak tubuh serta irama lain yang mungkin dengan iringan alat musik dalam sebuah upacara. Catatan Toda ini sejalan dengan pembatasan puisi secara umum oleh Perrine (1969: 3) yang menyatakan puisi seumum (universal) dan sekuno bahasa,"Poetry is as universal as language and almost as ancient. The most primitive peoples have used it, and the most civilized have cultivated it. In all ages, and in all countries, poetry has been written – and eagerly read or listened to – by all kinds and conditions of people …"
Di lain pihak Faruk HT (2004) melihat adanya korelasi positif antara perkembangan kemampuan teknologi informasi dan komunikasi dengan perkembangan besarnya dan beranekanya kolektivitas serta perkembangan kecanggihan kebudayaan atau peradaban umat manusia untuk menunjang spesialisasi manusia dalam meningkatkan kualitas kerjanya. Hal ini yang memacu sikap kreatif penggunaan program komputer untuk menghasilkan puisi digital yang merupakan kolaborasi antara lukisan atau foto dan musik sebagai inspirasi (ilham – pemicu) dalam APDC. Peneliti dari Australia Kominos Zervos (2002) membatasi puisi multimedia atau digital sebagai jenis puisi yang menggunakan program-program komputer. Puisi yang tidak lagi sederet huruf dan kumpulan kata-kata yang bermakna tetapi sudah menjadi sebuah animasi – bentuk yang bergerak, berwarna, berbunyi dan berlatar belakang lukisan atau foto, "… a significant contribution to the genre of writing called poetry and he called that writing cyber poetry." Lebih lanjut Kominos Zervos dalam Ashok Mathur mengklasifikasikan puisi cyber menjadi tujuh jenis yakni:

1. puisi cyber disebut puisi hypertext menggunakan program hyperlink
2. puisi cyber menggunakan program hyperlink yang tidak melulu text tetapi juga image, bunyi, video dan animasi dan jenis-jenis huruf
3. puisi cyber tidak dapat diterbitkan dalam bentuk cetak
4. puisi cyber merupakan puisi bercampur dengan bunyi
5. puisi cyber dikenal juga sebagai puisi pertunjukan seperti baca puisi, deklamasi ataupun drama puisi dan ini merupakan bentuklama terutama dalam kesenian tradisional atau kesenian rakyat (di Amerika Serikat dikenal sebagai puisi yang diucapkan - spoken word poetry, di Australia dan Inggris dikenal sebagai puisi pertunjukan - performance poetry).
6. Puisi cyber adalah puisi kasat mata - visual poetry.
7. Puisi cyber adalah animasi teks yakni penggunaan program animasi komputer - the animated text.
Inspirasi (ilham – pemicu) seni lukis atau foto tentunya menawarkan berbagai warna yang mengacu pada simbol atau tanda tertentu yang dapat diungkap hubungan emosinya. Sedangkan seni musik menawarkan suasana yang mempengaruhi gerak atau animasi penggambaran pengembangan gagasan penyair. Starla Stesaas (2000) mencatat hasil karya digital yang dipamerkan merupakan pemanfaat alat baru (teknologi) jika dibandingkan dengan media tradisional yang disebut Dami N. Toda (1984) sebagai puisi total yang mengandalkan suasana dan improvisasi perpaduan kata-bunyi-suara-gerak.


BATASAN DAN PEMBUATAN PUISI DIGITAL

Stensaas (2002) [on line] dengan menggunakan pendekatan yang dilakukan Benyamin (1936) dalam melihat proses produksi pembuatan foto yang dibandingkan dengan lukisan, menuntut penerimaan proses pembuatan foto digital yang menggunakan program komputer sehingga pencetak foto tidak lagi bersentuhan dengan cairan kimia. Juga pada pencetakan foto yang menggunakan kamar gelap yang tidak mengotori tangan dibandingkan dengan penggunaan cat atau alat gambar dalam membuat lukisan . Sejalan dengan cara pembuatan foto digital, puisi digital juga merupakan karya seni yang juga menggunakan program-program komputer dalam pembuatannya. Menurut Zervos (2002) komputer menjadi alat yang menarik dan menunjang kegiatan pendidikan,hiburan, tempat kerja serta alat menyampaikan berita. Bagi pengguna komputer pemula pun tidak akan menemui kesulitan untuk mengoperasikannya komputer, yang kemudian dilengkapi dengan serat optik yang memungkinkan penggunaan saluran telepon untuk menyampaikan informasi dengan sangat pesat. Antonio (2001) dalam artikelnya "A Map of Different Digital Poetries" menyebutnya sebagai hasil seni (dalam hal ini puisi) yang tidak hanya menggunakan komputer sebagai mediator tetapi juga penggunaan video, film,holografi dan pertunjukan atau pementasan sebagai pendukung. Zevros (2002) menyebutnya puisi cyber untuk karya-karya puisi yang menggunakan program komputer. Jakob Sumardjo (2002) menyimpulkan dalam artikelnya "Menggali Kekayaan Medium Cybersastra" bahwa dalam teknologi ini (komputer), puisi dapat diwujudkan melalui kekayaan medium tulisan, medium gambar, medium musik, medium bunyi-bunyian, dan gambar bergerak. Semua medium ini dapat digunakan sekaligus dalam puisi.
Proses penciptaan puisi digital dapat ditelusuri pada penggunaan teknologi yang bermula pada penciptaan puisi lisan yang berdasarkan pada unsur bahasa bunyi dalam bentuk rima, aliterasi dan asonansi. Kemudian pada penciptaan puisi konkret fungsi kata (bunyi yang dituliskan) menjadi bentuk visual atau gambar. Puisi yang kata atau kelompok katanya menyulap bayangan yang mengagumkan menggunakan ungkapan gagasan umum tentang makna kata itu. Mary Ellen Solt (1968) dalam artikelnya Concrete Poetry: A World View mencacat penggunaan istilah puisi konkret mengacu pada berbagai pencarian dan percobaan setelah Perang Dunia II yang mengubah penulisan puisi secara menyeluruh dan meluaskan kemungkinan pengungkapan (ekspresi) dan perhubungan (komunikasi). Lebih lanjut Solt mengatakan "the poem as an object and participate in the poet's act of creating it, for the concrete poem communicates first and foremost its structure." Di Brasilia sudah sejak 1950an kelompok penyair Noigandres menunjukkan keberanian dalam penggambaran dalam lirik abad pertengahan yang radikal yang bukan hanya merupakan tanggapan atas nilai-nilai sebelumnya. Puisi konkret merupakan puisi uji-coba atau pencarian ungkapan estetika baru dengan penggunaan media seni selain sastra. Eugen Gomringer, penyair Swiss, menyebut puisi konkretnya sebagai constellations sebagai ketidakpuasan atas cara lama menuliskan puisi (di Indonesia dikenal dalam seni instalasi, seni lukis yang menggunakan berbagai media yang tidak terbatas pada cat dan kanvas, tetapi sudah menggunakan benda-benda sekitar baik benda alam maupun buatan manusia). Proses penciptaan puisi digital juga mempunyai kemiripan dengan puisi konkret dalam penggunaan media. Puisi digital yang terkumpul dalam APDC yang menggunakan lukisan, foto dan musik sebagai bahan inspirasi. Puisi digital ini menggunakan program komputer Microsoft PowerPoint. Penyair menyusun imajinya berdasarkan rangsangan inspirasi media lukis atau foto dan media musik. Konsep ini sejalan dengan Kredo Puisi Sutardji yang membiarkan kata-kata meloncat-loncat dan menari-nari di atas kertas, mabuk dan menelanjangi diri, mondar-mandir , membelah diri bahkan jika mungkin membunuh, yang dengan menerapkan (mengaplikasikan) program komputer penyair puisi digital cukup menggunakan fasilitas-fasilitas yang ditawarkan PowerPoint. Merujuk pada batasan puisi cyber oleh Kominos Zervos yang disimpulkan Ashok Mathur puisi cyber adalah animasi teks yakni penggunaan program animasi komputer - the animated text maka puisi digital dapat dikategorikan sebagai puisi cyber. Antonio (2001) [on line] dalam artikel "A Map of Different Digital Poetries" mengatakan bahwa adanya puisi digital pada tingkat tertentu dianggap suatu genre wacana melalui media digital yang merupakan penggabungan beberapa unsur media. Lebih lanjut dikatakan munculnya perangkat komputer dan perkembangannya dalam kehidupan menjadikan puisi sebagai seni media elektronik.
Berdasarkan pemikiran Benjamin, Thomson (1998) dapat dilihat adanya perubahan budaya cetak ke budaya elektronik, maka ada perubahan media cetak (buku) ke media elektronik dengan perangkat komputer dan telepon yang menghadirkan e-book. Hal ini muncul pada era surat elektronik (e-mail) yang menghubungkan beberapa pengguna internet memunculkan karya-karya yang menggunakan program komputer dengan sarana internet yang merupakan wilayah tanpa batas geografi, ras, suku bangsa maupun negara. Jenifer Altenhoff (2001) [on line] dalam disertasi Mythology and Depth Psychology mengatakan … the Internet allows connections amongst greater numbers of human beings than any other time in human history. Hal ini ditegaskan oleh Antonio (2001) dengan menunjukkan perbedaan "the digital artistic texts differ from other texts (verbal, visual, audiovisual etc) in that they use the computer as a mediator between man and the sign production with esthetic aims" Ini juga sejalan dengan pendapat Barthes (1956) dalam artikel "Myth Today" bahwa tulisan dan gambar tidak meminta persamaan jenis kesadaran, bahkan pada gambar seseorang dapat menggunakan berbagai pembacaan, diagram misalnya memberikan kejelasan (signifikasi) lebih daripada gambar, salinan lebih jelas dibandingkan dengan aslinya dan karikatur lebih cocok daripada potret. Lebih lanjut dijelaskan bahwa gambar lebih memberi kesan langsung daripada tulisan, gambar menjelaskan arti dengan sekali goresan tanpa harus menguraikan atau melarutkannya. Berdasarkan penjelasan Barthes ini maka penggunaan inspirasi gambar baik berupa foto maupun lukisan yang disertai efek bunyi atau musik yang tersedia dalam pembuatan puisi digital memperkaya makna dalam pengungkapan gagasan penyair.


KONSEP PUISI DIGITAL
Penggunaan berbagai media seni dalam penciptaan puisi digital merupakan perbedaan yang mencolok selain penggunaan program komputer. Hal ini terlihat dari pengertian puisi secara umum yang dirangkum oleh Arisel Ba (nama sebenarnya Subari bin Ahmad) dalam artikel "Definisi Puisi" yang dapat dibaca pada situs http://ariselba.blogdrive.com/comments?id=26, Wednesday, April 06, 2005 menulis Ciri-ciri puisi. itu antara lainnya termasuklah imaginasi,
pemikiran, idea, nada, irama, kesan pancaindera, susunkata, kata- kata kiasan, kepadatan, perasaan, perasaan yang bercampur-baur dan sebagainya. Dan bila pula diperhalusi lagi ciri-ciri ini, maka puisi boleh kita bahagikan kepada tiga eleman pokok iaitu; (1) Isi
(pemikiran, idea dan emosi) (2) Bentuk (3) Kesan. Dan kesemua elemen ini tercakup menerusi satu media iaitu bahasa Arisel membatasi puisi yang menggunakan satu media yakni bahasa, sedang puisi digital selain bahasa, juga menggunakan gambar bunyi dan gerak. Membaca puisi digital tidak berhenti pada segi bahasa tetapi juga ukuran huruf, gerak huruf serta warna yang mengungkapkan makna atau simbol yang lain. Pradopo (2000) mengutip Shahnon Ahmad yang mendefinisikan puisi sebagai campuran unsur-unsur pemikiran, ide dan emosi diungkapkan dalam bentuk tertentu yang menimbulkan kesan dengan media bahasa. Lebih lanjut diterangkan sifat kepuisian dapat ditunjukkan dalam bentuk visual dengan tipografi, penataan bunyi pilihan kata untuk menyusun sebuah puisi, kemudian bunyi persajakan, asonansi, aliterasi, kiasan bunyi, lambang rasa atau orkestrasi, juga pemilihan kata (diksi), bahasa kiasan, sarana retorika, susunan tatabahasa serta gaya bahasa atau majas. Semuanya itu masih dalam media bahasa. Sedangkan Waluyo (1987) mencatat puisi dibangun dengan struktur fisik yang berupa bahasa dan struktur batin atau makna yaitu pikiran dan perasaan. Selanjutnya dalam Encarta 98 Encyclopedia puisi disebutkan sebagai "form of literature, spoken or written, that emphasizes rhythm, other intricate patterns of sound and imagery, and the many possible ways that words can suggest meaning."
Dari semua kutipan mengenai definisi puisi semua bertumpu pada unsur bahasa yang meliputi kosakata, tatabahasa, gaya bahasa atau majas serta susunan bait atau baris yang dikenal dengan sebutan tipografi. Semua unsur itu juga muncul dalam puisi konkret (juga puisi digital) yang sudah melibatkan seni rupa, maupun seni musik dalam penciptaan atau pameran serta pertunjukannya. Perbedaan puisi digital dengan puisi cetak sebatas pada penggunaan program komputer yang merupakan kelanjutan perkembangan teknologi yang melandasi perkembangan mekanik dalam penerbitannya atau dengan kata lain penggunaan mesin seperti yang dicatat oleh Benjamin (1936) dalam proses pembuat foto yang tanpa melalui pencampuran cat seperti pada saat melukis, demikian juga dengan penemuan proses digitalisasi, pencetakan foto tidak harus melalui larutan kimia dalam kamar gelap. Oleh karena itu puisi digital merupakan hasil karya yang lebih kompleks karena penggunaan media seni yang beragam serta penerapan program komputer. Jika puisi konkret dapat disimpan dalam bentuk buku cetak, atau foto-foto pameran, maka puisi digital tersimpan dalam compact disc atau diskette yang memerlukan perangkat komputer untuk membaca atau menikmatinya. Hal ini yang membedakan cara menikmati puisi digital yang sangat tergantung dengan kecanggihan perangkat komputer, tidak seperti puisi biasa maupun puisi konkret yang dapat dinikmati melalui penerbitan buku dan pertunjukan atau pameran dalam gedung maupun di alam terbuka.


PROSES REPRODUKSI
Reproduksi dalam sastra berhubungan dengan penerbitan buku (Escarpit 1958, terjemahan Ida Sundari Husen, 2005: 67) yang dengan adanya penemuan percetakan mempengaruhi kehidupan kultural dan intelektual juga pada hubungan-hubungan sosial (Faruk 1994: 52). Dalam reproduksi itu ada hubungan kegiatan penerbit yang saling mempengaruhi yaitu kegiatan memilih, membuat (fabriquer), dan membagikan. (Escarpit 1958, terjemahan Ida Sundari Husen, 2005: 74). Untuk itu Tommy Prakoso dalam penerbitan APDC yang bertindak sebagai Project Manager (penyunting) menjelaskan tentang penyusunan antologi puisi digital ini yang secara keseluruhan dikoordinasikan tidak melalui interaksi tatap muka melainkan dengan memanfaatkan sarana komunikasi internet yang dilakukan sejak pengumuman rencana pembuatan puisi digital, tanya jawab, konsultasi teknis, hingga pembuatan CD. Penjelasan pembuatan puisi digital dijelaskan pada "Proses Pembuatan Puisi Digital" dengan mengambil contoh tiga penyair yang menggunakan inspirasi yang berbeda. Gagasan pembuatan puisi digital ini bermula dari pembicaraan buku kumpulan puisi cyber (Graffiti Gratitude, 2001) yang diterbitkan dalam rangka peresmian YMS pada tanggal 9 Mei 2001 di Jakarta. Buku kumpulan puisi cyber ini dipertanyakan oleh Herfanda (2004: 71 - 73) tentang digunakan istilah puisi cyber karena secara estetik puisi-puisi itu tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan puisi yang dipublikasikan di media cetak. Mestinya puisi cyber dapat menunjukkan perbedaan melalui tayangan puisi dengan latar suara atau musik, grafis yang indah, dan background yang bergerak. Oleh sebab itu penerbitan kumpulan puisi digital ini merupakan upaya menjawab pertanyaan yang muncul setelah penerbitan buku kumpulan puisi cyber itu.
Salah satu kegiatan dalam reproduksi adalah memilih atau menyunting dan sebagai penyunting Tommy Prakoso tidak banyak berperan, kecuali dengan membuka peluang tanya jawab melalui hubungan internet dalam pembuatan puisi yang berhubungan dengan masalah teknis pemanfaatan program komputer, sedang hasil akhir pembuatan puisi digital dipercayakan pada penyairnya. Oleh karena itu dalam APDC, ada beberapa penyair tidak mendigitalisasi puisinya dan meminta bantuan pada penyair lain yang lebih menguasai program komputer. Kegiatan membagikan atau distribusi karya dilakukan sebatas pada penyebaran penyair yang menyertakan puisinya dan pembicara pada peluncuran (sampai saat ini CD itu tidak dipasarkan di toko buku atau tempat umum lainya) yakni Faruk HT, Sapto Rahardjo, Jakob Sumardjo, Jeihan dan dipandu oleh Juniarso Ridwan. Ketika APDC diluncurkan pada 3 Agustus 2002 di Yogyakarta, puisi digital ini dipertanyakan tentang penggunaan teks yang dianimasi (Ridwan, 2004: 255, Alwy: 2004: 267, Sumardjo, 2002). Hal ini telah ditanggapi oleh beberapa penulis yang menggunakan asumsi bahwa segala karya seni dapat dipandang sebagai teks (Bariarcianur, 2004:259 dan Soewandi, 2004: 248). Pemaknaan teks dalam puisi digital dijelaskan pada "Implikasi Pendigitalisasi Puisi".

No comments:

Labels

Popular Posts